Tak Ternilai

seringkali dalam kehidupan, kita memberi nilai pada sesuatu hal yang sebenarnya tak ternilai. semisal bakti kita sebagai anak untuk orang tua, bukankah ada banyak cerita tentang seorang anak yang menilai bahwa memberi orang tua dengan keberlimpahan materi adalah cukup ? sehingga, melupakan pentingnya arti sebuah kebersamaan dan kehadiran. andai saja jika kita tak memberi nilai dan memandang bahwa bakti untuk orangtua adalah hal tak ternilai. mungkin, tak akan pernah terbit kecewa di hati orang tua, tak akan pernah muncul rindu karena rasa kehilangan, dan tak akan ada tangis diam-diam dalam doa mereka. seandainya kita memahami bahwa bakti pada orang tua adalah bagian dari hal yang tak pernah ternilai dengan apapun di dunia ini, niscaya akan ada dahaga mempersembahkan hal-hal terbaik tanpa batas untuk keduanya dan tak pernah mengenal rasa cukup.

kemudian, tentang arti sebuah kebaikan. saya sering merasa bahwa hal-hal sederhana yang saya lakukan adalah kebaikan yang bernilai kecil, sehingga merasa minder dengan megahnya kebaikan-kebaikan di luar sana. padahal kebaikan juga adalah hal yang tak ternilai di dunia ini. sehingga sudah seharusnya tak lagi berpikir ada kebaikan kecil dan besar lagi, karena nilai suatu kebaikan adalah tak pernah tak ternilai. sebab yang terpenting adalah teruslah berupaya memaksimalkan potensi kebaikan yang Allah amanahkan di dunia fana ini. semoga kebaikan kita selalu terjaga olehNya. aamiin…

hari ini aku sedang ingin mengingatkan diriku sendiri bahwa jangan lagi menilai sesuatu hal yang sebenarnya tak ternilai. tentang pertemanan, persahabatan, persaudaaraan, ketulusan dan deretan kebaikan lainnya.

Tak Terduga

Hari ini begitu banyak himpunan peristiwa tak terduga, berawal dari niatku menemani seorang teman untuk melakukan penelitian di sekolah berbasis kurikulum Islam yakni kuttab Al-Fatih, Depok. kami berangkat bada shalat subuh. sungguh, nuansa keramahan terasa sejak awal kedatangan kami, murid-murid menyalami setiap orang yang ia temui sambil  berucap “assalamualaikum”, lantunan hafalan Al-Quran yang menggemakan ketenangan  di setiap sudut ruangan, dan pagi yang indah mereka mulai dengan sebuah dzikir disertai ikrar untuk memperoleh kemudahan dan keberkahan dalam menimba ilmu. sekolah ini unik, sebelum pembelajaran dimulai siswa dikondisikan hati dan keimanannya terlebih dahulu agar siap menerima ilmu dan memahami bahwa ilmu yang baik adalah ilmu yang mengantarkan kita semakin dekat kepada Allah. hal yang menarik lainnya, yakni ketika salah seorang ustadz dalam menceritakan siroh Nabawiyah beliau selalu berhasil menarik relevansinya dengan kehidupan saat ini. kemudian, aku mendapatkan kalimat renungan yang menghujam beliau mengatakan bahwa “seorang hamba, tidak memiliki rasa takut dengan apapun dan siapapun. karena rasa takutnya diperuntukkan  hanya untuk Allah dan RasulNya. jikalau ada rasa takut yang muncul bukan karena Allah dan RasulNya, maka koreksi kembali interaksi kita dengan Al-Quran dan As-Sunnah” masya Allah…

sore hari menjelang pulang. qadarullah motor yang kami kendarai ditabrak oleh kendaraan lain ketika hendak berbelok arah. alhamdulillah tidak ada luka yang terlalu serius. hanya saja aku jadi teringat, pernah mendapatkan kalimat bahwa ketika hendak melakukan perjalanan kemanapun. sudah seharusnya selalu dalam kondisi niat yang terjaga. sehingga kapanpun Allah memanggil kita, kita kembali dalam kondisi hati dan niat yang bersih, bukan sedang dalam kondisi hati yang lalai dari memurnikan niat hanya untuk meraih ridhaNya semata.

Allah…

Tahun 2018 masa dimana diri ini kehilangan kepercayaan, bahkan untuk sekedar percaya mampu menyelesaikan tugas akhir pun tidak seoptimis yang seharusnya, karena beberapa hal rumit sedang Allah hadapkan di depan mata selain dari amanah sebagai pelajar. Namun, kejaiban dariNya selalu mampu menguatkan hati yang dilanda penyakit putus asa. Aku merasa ditempatkan pada posisi yang membuatku berpikir, sebetulnya aku tak begitu pantas menjalani amanah ini karena di luar sana banyak yang lebih layak untuk mendapatkan kesempatan tersebut. Tapi Allah selalu menuntun tiap detail peristiwa yang awalnya diri ini merasa takut. benarlah sebuah kalimat yang mengatakan bahwa “Allah memperlakukanmu seolah-olah tidak punya hamba selain engkau, namun kita seringkali memperlakukan Allah seperti punya banyak Tuhan selain Diaa. Astaghfirullah…

Menggampangkan

Malam ini aku belajar tentang bagaimana pentingnya menata kalimat, bahwa terkadang kalimat menggampangkan sesuatu terhadap hal yang dapat melukai perasaan seseorang adalah luka yang mungkin tak mudah untuk disembuhkan. perihal apapun bilamana didalamnya ada keterlibatan mengenai sebuah tanggungjawab bersama, diri ini hanya berharap apakah ada kalimat yang lebih menyejukkan selain kalimat menggampangkan? memang saat ini aku berada di sebuah lingkungan yang mungkin bisa dibilang jika merasa dilukai akan dilabeli “baper” atau mungkin diposisikan sebagai orang yang kurang kekeluargaan. entahlah, aku hanya ingin bertanya pada diriku sendiri, apakah salah saat ingin diperlakukan sebagaimana idealnya manusia? ah iya, malam ini aku sedang belajar untuk nanti jikalau dihadapkan pada situasi serupa akan lebih berhati-hati dalam memberi sebuah tanggapan dan argumen agar setiap detail kalimatnya tidak membekaskan luka pada hati siapapun. aamiin…

Kehilangan

hidup adalah rentetan kehilangan. sesederhana ketika kita menatap langit senja, sungguh ialah tanda yang seharusnya kita renungkan. bahwa kehidupan adalah tentang menunggu kehilangan-kehilangan berikutnya. setiap hari kita akan menempuh beberapa fase kehilangan tentang detak, detik dan aneka peristiwa yang mengiringnya. sudah terasakah di sanubari kita bahwa betapa fananya segala hal yang ada di dunia ini ?.

kehilangan selalu berjalan menuju kita setiap detik, kelak akan ada masanya kita kehilangan anggota keluarga, teman, sahabat dan segala hal yang pernah menemani jatah hidup kita selama di dunia ini. tapi ada satu hal yang tidak boleh hilang, yakni tentang keimanan, karena ia harus senantiana membersamai manusia sampai kembali lagi ke sisiNya. beberapa daftar kehilangan yang akan menemui kita, semoga sebelum semuanya benar-benar pergi kita telah berupaya semaksimal mungkin agar kehilangan hanya berhenti sebatas langit dunia saja. Allah menjanjikan orang-orang yang bertaqwa akan saling dipertemukan kembali bukan? tentunya, hal ini perlu perjuangan sungguh-sungguh untuk saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran ketika amanah nafas masih Allah percayakan selama di dunia. hal yang paling aku takutkan bukan tentang daftar panjang kehilangan yang terjadi di dunia ini, tapi aku takut kehilangan orang-orang tersayang di akhirat nanti. 😥 aku menyadari betapa lemahnya diri ini untuk saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, terlebih pada keluarga. rasanya bahasa cinta yang ditujukan untuk orang-orang yang paling kita sayangi di dunia ini begitu sulit untuk sampai. tapi, upaya itu selalu ada, doa-doa kebaikan akan terus dikumandangkan agar orang-orang yang aku sayangi di dunia ini selalu Allah jaga dengan penjagaan terbaikNya, Allah istiqamahkan dalam iman dan taqwa. mudah-mudahan kita tak saling kehilangan satu sama lain di akhirat kelak, semoga  jatah kehilangan  dihabiskan sebatas di dunia saja. Aamiin…