Kehilangan

hidup adalah rentetan kehilangan. sesederhana ketika kita menatap langit senja, sungguh ialah tanda yang seharusnya kita renungkan. bahwa kehidupan adalah tentang menunggu kehilangan-kehilangan berikutnya. setiap hari kita akan menempuh beberapa fase kehilangan tentang detak, detik dan aneka peristiwa yang mengiringnya. sudah terasakah di sanubari kita bahwa betapa fananya segala hal yang ada di dunia ini ?.

kehilangan selalu berjalan menuju kita setiap detik, kelak akan ada masanya kita kehilangan anggota keluarga, teman, sahabat dan segala hal yang pernah menemani jatah hidup kita selama di dunia ini. tapi ada satu hal yang tidak boleh hilang, yakni tentang keimanan, karena ia harus senantiana membersamai manusia sampai kembali lagi ke sisiNya. beberapa daftar kehilangan yang akan menemui kita, semoga sebelum semuanya benar-benar pergi kita telah berupaya semaksimal mungkin agar kehilangan hanya berhenti sebatas langit dunia saja. Allah menjanjikan orang-orang yang bertaqwa akan saling dipertemukan kembali bukan? tentunya, hal ini perlu perjuangan sungguh-sungguh untuk saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran ketika amanah nafas masih Allah percayakan selama di dunia. hal yang paling aku takutkan bukan tentang daftar panjang kehilangan yang terjadi di dunia ini, tapi aku takut kehilangan orang-orang tersayang di akhirat nanti. ūüė• aku menyadari betapa lemahnya diri ini untuk saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, terlebih pada keluarga. rasanya bahasa cinta yang ditujukan untuk orang-orang yang paling kita sayangi di dunia ini begitu sulit untuk sampai. tapi, upaya itu selalu ada, doa-doa kebaikan akan terus dikumandangkan agar orang-orang yang aku sayangi di dunia ini selalu Allah jaga dengan penjagaan terbaikNya, Allah istiqamahkan dalam iman dan taqwa. mudah-mudahan kita tak saling kehilangan satu sama lain di akhirat kelak, semoga¬† jatah kehilangan¬† dihabiskan sebatas di dunia saja. Aamiin…

Advertisements

Tenggelam

tenggelam ialah kata yang kadang melenakan kita. aku tenggelam dalam rutinitas. tanpa sadar tahun-tahun yang fana terus berlalu, tak terasa sudah lama rupaya tidak berkunjung dan menepi di blog ini, menumpahkan aneka cerita kehidupan yang kadang paradok dengan segala hal dinamis disekelilingnya.

petang ini, aku masih berada di perpustakaan untuk menyelesaikan hal yang seharusnya diselesaikan. sejenak, pikiranku teringat kalimat tebak-tebakkan dari seorang murid¬† les laki-laki namanya Hafizh Rasyad, ia pernah bertanya “kak jika ada 8 ikan sedang berenang di permukaan, 2¬† ekor ikan tenggelam. berapa ekor ikan yang masih berada di permukaan air?”

jawabannya tentu tetap 8 ekor yang ada di atas permukaan air. karena ikan dalam hidup dan mati sekalipun ia tak mengenal kata tenggelam. hidupnya melayang di air dan matinya mengapung di permukaan air. apakah ada yang menjawab berdasarkan kalkulasi matematis? yakni jawabannya 6? berarti, kena deh.hehe

oh ya, sejenak merenungkan hal ini membuatkua berpikir bahwa perlu rasanya mencoba berprinsip bagai ikan untuk tidak pernah mengenal kata tenggelam. Tenggelam dalam hal apapun terkadang menyebabkan hilangnya kepekaan rasa. tenggelam dengan kebaikan diri, seringnya menimbulkan sikap merasa sudah baik bukan? sehingga, tidak bertembahnya pemahaman tentang kebodohan diri ketika dalam 24 jam tidak bertambah ilmu dan amal.

tenggelam dalam rutinitas dan terlalu fokus juga berbahaya, hal ini sangat lekat dengan keseharian manusia. bisa dilihat betapa banyak komitmen yang bergeser prioritasnya, permisalan kecil yang aku rasa ialah ketika tidak konsisten dengan beberapa hal yang seharusnya dilakukan, seperti halnya tidak lagi konsisten singgah di blog ini.

aku tak ingin tenggelam dalam hal yang dapat menjatuhkan, menjatuhkanku pada aneka sikap diri yang salah. sikap yang membawaku tidak menjadi seperti manusia yang seharusnya, manusia yang tidak dapat menyeimbangkan aneka peran dalam dirinya.

Jadikan namamu tak pernah tenggelam baik ketika ada dan tiada di dunia, tentunya dengan terus berusaha meningkatkan aneka kebaikan. ingat selalu bahwa¬† kebaikan seorang hamba Allah yang mampu memahami posisi kehambaannya, ialah kumpulan manusia yang namanya tak pernah tenggelam baik semasa hidupnya di dunia maupun semasa hidupnya kelak di akhirat. semoga Allah senantiasa menuntun langkah kita untuk tiada pernah sejengkalpun berpaling dari ISLAM yang Rasulullah Shalallahu Alaihi wa salam bawa sebagai cahaya di gelapnya kefanaan dunia, agar kita tidak tenggelam. aamiin….

 

Dinamis

“semua hal dalam hidup ini selalu berubah, masa kamu masih gitu-gitu aja” Anonim

tak dipungkiri semua hal senantiasa bergerak maju, sehingga sudah seharusnya kita sebagai manusia pun turut memberi nilai tambah kebaikan seiring banyaknya bilangan hari yang masih diamanahkan olehNya. kalimat indah Sayyidina Ali dengan 3 kategori tipe manusia bisa dijadikan sebagai alat muhasabah diri yang  dapat kita pantau tiap harinya, pertama tipe manusia yang beruntung yakni ia berhasil menjadikan dirinya lebih baik dari hari kemarin. kedua tipe orang merugi yakni ia yang menjadikan dirinya sama seperti hari kemarin, stagnan tanpa ada perubahan, terjebak rutinitas yang melenakan, membuat zona nyaman sendiri di satu titik yang enggan berpindah. misalnya, kita masih nyaman dengan belum fasihnya bacaan Al-Quran yang kita lantunkan, kita nyaman dengan pengetahuan islam yang masih dangkal. kita nyaman dengan membenarkan beberapa sifat buruk menetap dalam diri kita dll. ketiga tipe manusia yang celaka yakni ia menjadikan dirinya lebih buruk dari hari kemarin

tentunya sebagai manusia yang dianugrahi akal olehNya, kita mampu menilai bahwa sudah seharusnya tiada pilihan lain selain melewati hari demi hari untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin. kenapa harus gitu? ya, karena manusia adalah makhluk istimewa. yuk mengenal keistimewaan manusia !

Khosyatul Insan (Keistimewaan Manusia)

thaqatul Hayawiyah (potensi kehidupan) terdiri dari dua tinjauan mendasar yakni tentang kebutuhan jasmani dan naluri. potensi kehidupan ini terdapat pada hewan dan manusia. bedanya, manusia dianugrahi keistimewaan dengan adanya akal, yang dengan akalnya kehidupan manusia menjadi sedemikian dinamis dan selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. tentunya hal ini akan jauh berbeda dengan hewan, karena tidak dianugrahi akal, maka kehidupan yang mereka jalani akan selamanya statis misal, sejak dulu sapi akan selalu memakan rumput dengan cara yang sama. sementara cara makan manusia senantiasa berkembang kadang digoreng, dikukus, direbus, dipanggang dan masih banyak lagi variasi yang lain. hal yang sederhana ini, betapa terlihat besarnya potensi akal manusia yang membuat kehidupan menjadi sedemikian dinamis.

jika kita amati kehidupan selain yang dijalani oleh manusia. maka alurnya bisa diprediksi karena sifatnya statis. seperti siklus kucing yang awalnya lahir, menjalani kehidupan, mati. akan seperti itu selamanya tidak akan ada perubahan, gak mungkin kalo di suatu masa tiba-tiba kucing sewa apartement, tiba-tiba kucing berkebun dll. begitulah kehidupan hewan mereka tidak bisa berubah, tidak bisa sedinamis manusia, tidak bisa berkembang sebagaimana kehidupan manusia yang dianugrahi akal, karena punya akal, manusia bisa berpikir, dari aktivitas berpikir tersebut kehidupan manusia senantiasa berkembang, dalam mengolah makanan berkembang, dalam mengelola tempat tinggal berkembang yang tadinya tinggal di goa, menjadi tinggal di rumah, tinggal di apartement dll.

surah al-araf ayat 179 Allah menjelaskan perbedaan manusia dan hewan,

“Dan sungguh, akan kami isi neraka jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia.¬† mereka memiliki hati, tetapi tidak diperguanakan untuk memahami ayat-ayat Allah, mereka memiliki mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, adan mereka mempunyai telinga tetapitidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah. mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. mereka itulah orang-orang yang lengah”

kita tentunya memahami perbedaan yang sangat mendasar ini, maka apakah kita sudah memahami akal itu apa? akal yakni sesuatu yang identik dengan pemikiran. arti kata aqal, al-idrak, al-fikr sifatnya mutadarif (bersinonim). akal sebagai khasiat dari otak manusia yakni untuk dapat mengkaitkan realitas yang diindra dengan informasi sebelumnya.

orang-orang terdahulu mencoba mendefinisikan proses berpikir. namun, diantaranya ada yang gagal dalam mendefinisikan proses berpikir dan ada juga yang prematur dalam mendefinisikan proses berpikir.¬†Descartes¬†menyatakan¬†: ‘aku berfikir maka¬†karena¬†itu¬†aku ada‘¬† artinya pernyataan ini mengatakan bahwa berpikir itu proses cerminan ke dalam otak, jadi kalo gak ada materi, gak bisa mikir. padahal gak gitu juga.¬† misalnya monyet bisa melihat pisang, monyet bisa bisa melihat uang. tapi monyet tidak bisa berpikir tentang pisang dan uang. karena tidak adanya proses asosiasi, proses menghukumi fakta tidak ada.

mari kita meninjau kembali karakteristik akal manusia, terdapat 4 pembentuk akal manusia:

  1. otak
  2. fakta yang diindra
  3. pengindraan
  4. informasi awal untuk menghukumi fakta yang diindra

Allah berfirman dalam¬† Qs. Al-baqarah ayat 31 ” dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat seraya berfirman ” sebutkan kepadaKu nama semua (benda) ini , jika kamu yang benar !”

ayat ini adalah dalil bahwa manusia diberikan sesuatu yang tidak Allah berikan kepada malaikat yakni akal yang dapat digunakan berpikir. makadari itu perintah beribadah hanya ditujukan untuk jin dan manusia, malaikat dikecualikan. ketika Allah tidak memberikan akal pada malaikat maka malaikat hanya bisa melakukan satu hal saja yakni ketaatan pada Allah.

proses berpikir yang manusia lakukan melibat informasi awal. jika informasi awalnya salah maka bisa dipastikan aktivitas berpikirnya akan salah. makadari itu Islam senantiasa mengharuskan berilmu terlebih dahulu sebelum berpikir. karena segala hal yang manusia lakukan akan dikaitkan dengan informasi yang biasa dikomsumsi. informasi yang dikomsumsi akan  merubah cara berpikir seseorang.

otak manusia memiliki keistimewaan yakni dapat mengasosiasikan realitas dengan informasi awal. realitas dipindahkan oleh otak melalui alat indra  lalu informasi yang ada di dalam otak disimpulkan oleh manusia.  proses kerja komponen tersebut sampai menghasilkan kekuatan untuka membuat keputusan inilah yang dinamakan akal.

misalnya, dulu ketika masih kecil. sewaktu melihat mangga di pohon terlihat enak, kemudian langsung diambil.

fakta: mangga

indra: mata

otak: berkerja dengan baik

informasi  sebelumnya: mangga itu enak

kemudian di hari berikutnya diberikan pemahaman oleh ibunya mengenai tidak boleh mengambil yang bukan hak kita. maka ketika si anak melihat fakta yang sama yakni buah mangga tidak akan mengambilnya lagi. adanya perubahan informasi akan merubah tindakan.

berbeda dengan otak hewan yakni tidak diberi khasiat untuk mengasosiasikan antara informasi awal dengan realitas. kambing ngeliat rumput pasti dimakan. dinasehatin berkali-kali buat gak lagi makan rumput gak bakal ngerti. lain halnya dengan hewan yang bisa dilatih itu bukan proses berpikir yang terjadi tapi insting yang dijadikan habits dengan adanya reward dan punisment.

oleh karenanya, sebagai manusia yang berakal kita harus dapat mengkomsumsi informasi kebaikan secara terus-menerus untuk senantiasa berpikir benar dalam mengambil setiap detail keputusan selama masih dianugrahi amanah usia di dunia ini. telebih lagi, islam mengajarkan untuk berilmu terlebih dahulu dalam beramal.

Jangan ya…

menyusun aksara muhasabah untuk diri sendiri, terkadang tersibukkan untuk melarang orang lain jangan ini dan itu padahal segala hal yang kita anjurkan pada orang lain belum sepenuhnya terintegrasi pada diri sendiri. jangan lupakan dirimu ya…terlebih untuk sering-sering diingatkan tentang perkataannya sendiri sebelum tertuju lantang pada orang lain.

bebarapa hari ini dengan aneka perbincangan yang ada membuatku berpikir untuk tidak gampang menanyakan beberapa hal personal pada orang lain yang dapat mengguncang ketenangan di hati seseorang. misalnya, jangan pancing seseorang untuk mengeluh, mengemukakan alasan bahkan mencari pembenaran personal, dikarenakan pertanyaanmu yang tidak sedikitpun membantu apa-apa. kecuali hanya menonjolkan keangkuhan dengan deretan penilaian yang kau punya, bahwa mengapa ia tak sebaik yang seharusnya, tak seideal kebanyakan orang untuk menyelesaikan segala amanah di hidupnya dll. ingatlah lagi bahwa dinamika kehidupan setiap orang berbeda, maka jika engkau telah berhasil melampaui suatu tangga pencapaian dalam hidup. jangan pernah sekalipun muncul dalam hatimu untuk buru-buru menilai bahwa beberapa orang yang belum berada di posisi yang sama denganmu sebagai orang yang lalai. jangan begitu ya…ambillah peran dan posisikan dirimu sebaik mungkin tentang bagaimana dirimu bisa memberi semangat untuknya, mendoakan yang terbaik supaya dimudahkan, bahkan ke tahap mengikhlaskan sebagian waktumu untuk suka rela menawarkan bantuan sekecil apapun yang kamu bisa lakukan untuknya.

terkadang kita melewatkan kesempatan kebaikan yang seharusnya kita tunaikan dengan totalitas. ketika kemalasan datang jangan dituruti lawanlah dengan maksima;. jangan membuat kemalasan bertransformasi menjadi kebaikan palsu, kemalasan dijadikan pelarian untuk melalaikan amanah dengan memunculkan kesibukkan yang terlalu dibuat-buat, menciptakan drama baru untuk dapat melegalkan ketidakbaikan pada dirimu supaya tidak tertangkap basah oleh pandangan manusia.¬† ¬†kita lupa, seharusnya pandangan Allah lebih kita prioritaskan di atas segalanya. Ampuni Rabb…hidup ini penuh drama sekali, pekat oleh sandiwara dan main-main saja bagi orang-orang yang lalai.

Allah menunggumu di 1/3 malam terkhir, jangan lupa bangun ya…mohonlah kekuatan padaNya karena tanpa pertolonganNya kita pasti kalah. hidup ini perlawanan, melawan kemalasan,kesombongan, keangkuhan dan aneka ketidakbaikan yang tidak membuat Allah Ridha. jangan lupa ya bahwa hidup ini sementara, semoga tiada hari-hari yang tersisa kecuali untuk melakukan kebaikan dan ketaatan. aamiin…

Takut…

kemana rasa takutmu bermuara? sudahkah seindah ini…

  1. Takut kepada Allah, jangan-jangan Allah mencabut keimanannya
  2. Takut kepada malaikat, jangan-jangan mereka menulis amal kita dengan catatan yang sangat memalukan jika dibeberkan pada hari kiamat
  3. Takut kepada syetan, jangan-jangan mereka berhasil merusak amal yang kita kerjakan
  4. Takut kepada malaikat Izroil, jangan-jangan ia mencabut nyawa kita saat kita lupa kepada Allah
  5. Takut kepada dunia, jangan-jangan dunia itu telah membuat kita terlena sehingga kita melupakan urusan akhirat
  6. Takut kepada keluarga sendiri, jangan-jangan mereka telah menyibukkan kita untuk memenuhi urusan mereka, sehingga kita melupakan ketaatan kepada Allah

(Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu anhu)